Adik tiriku selingkuh dengan suamiku sendiri




## Bagian 4: Lembaran Baru di Atas Puing Masa Lalu


Enam bulan telah berlalu sejak badai malam itu meruntuhkan seluruh dunia Alina.


Jakarta tidak lagi menjadi tempat yang ramah baginya; setiap sudut jalanan, aroma kopi di pagi hari, bahkan rintik hujan selalu membawa ingatan pada pengkhianatan Aditya dan Kejora. Maka, Alina memilih pergi.


Ia mengemas seluruh hidupnya dalam dua koper besar dan pindah ke sebuah kota kecil yang lebih tenang di pinggiran Jawa Tengah, tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenalnya sebagai "istri yang dikhianati".
Di sebuah rumah petak sederhana yang merangkap sebagai toko bunga kecil miliknya, Alina menemukan kedamaian yang baru.


Tangannya yang dulu halus kini mulai terbiasa memotong tangkai mawar, merapikan daun, dan menyusun buket. Kesibukan itu menjadi obat bius terbaik untuk hatinya yang patah.



Suatu sore, gemerincing loncek di pintu tokonya berbunyi. Alina yang sedang membelakangi pintu langsung berbalik dengan senyum ramah yang kini terasa tulus.
"Selamat datang di Alina's Florist, ada yang bisa saya ban—" Kalimat Alina menggantung di udara. Senyumnya membeku.



Berdiri di ambang pintu, Aditya menatapnya dengan pandangan kerinduan yang mendalam. Tubuh pria itu tampak lebih kurus, gurat lelah tercetak jelas di wajahnya yang dulu selalu rapi dan angkuh. Di belakangnya, langit sore yang jingga mulai meredup, menyisakan bayang-bayang masa lalu yang mengancam akan masuk kembali ke hidup Alina.


"Alina..." suara Aditya bergetar, menyebut nama yang selama enam bulan ini hilang dari hari-harinya.
Alina menarik napas dalam-dalam, mencengkeram gunting tanaman di tangannya erat-erat untuk menyembunyikan getaran yang tiba-tiba muncul. "Mau apa kamu ke sini, Mas? Dari mana kamu tahu tempat ini?"




"Aku mencari kamu ke mana-mana, Al. Tolong, jangan panggil aku 'Mas' dengan nada sedingin itu," Aditya melangkah mendekat, namun Alina segera mundur dua langkah, membatasi diri mereka dengan meja kayu panjang tempat merangkai bunga.
"Untuk apa kamu mencariku?" tanya Alina, suaranya kini terdengar datar dan tegas. "Urusan kita sudah selesai di pengadilan agama tiga bulan lalu. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, bukan? Kamu bebas hidup dengan Kejora."
Mendengar nama Kejora, rahang Aditya mengeras. Ada kepedihan dan penyesalan yang mendalam di matanya. "Pernikahan itu tidak seperti yang kamu bayangkan, Alina.


Rumah itu... rumah itu terasa seperti neraka tanpa kamu. Setiap sudutnya hanya mengingatkanku pada dosaku kepadamu."
Aditya menjatuhkan lututnya ke lantai, bersujud di depan meja kerja Alina—sebuah pemandangan yang tak pernah Alina bayangkan sebelumnya dari seorang Aditya yang egois.


"Kejora sudah melahirkan sebulan yang lalu. Seorang anak laki-laki," ucap Aditya dengan suara parau, air matanya mulai menetes ke lantai kayu toko. "Tapi setiap kali aku melihat anak itu, aku hanya melihat pengkhianatan kita. Aku tidak bisa mencintai Kejora, Alina. Hatiku tetap tertinggal di tanganmu. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi. Kita bisa mulai dari awal, jauh dari mereka..."
Alina menatap pria yang dulu sangat dipujanya itu berlutut di bawah kakinya. Anehnya, tidak ada rasa puas atau dendam yang meledak di dadanya. Yang tersisa hanyalah rasa hambar yang luas.
Sebelum Alina sempat menjawab, sebuah bayangan lain muncul di pintu toko yang terbuka. Sosok wanita dengan wajah pucat, rambut acak-acakan, dan mata yang menyalang merah penuh amarah serta keputusasaan.
Itu Kejora. Ia berdiri di sana sambil mendekap erat seorang bayi dalam balutan selimut bayi berwarna biru.
"Jadi di sini kamu rupanya, Mas!" pekik Kejora, suaranya melengking memecah kesunyian sore, membuat bayi di dekapannya mulai menangis histeris. "Kamu meninggalkan anakmu yang sedang demam hanya demi mengejar perempuan yang sudah membuangmu?!"


Belenggu masa lalu itu ternyata tidak pernah benar-benar putus. Ia justru datang menjemput Alina kembali ke dalam pusarannya.


Bagaimana Alina harus bersikap menghadapi Aditya yang memohon kembali di depan istri sirinya yang baru saja melahirkan? Apakah kamu ingin melanjutkan ke **Bab 5**?



## Bab 5: Lingkaran Setan
Tangisan bayi yang melengking memecah keheningan toko bunga. Alina mematung, menatap nanar pada pemandangan di ambang pintunya. Kejora berdiri dengan napas terengah-engah, matanya merah menyalang, sementara Aditya perlahan bangkit dari berlututnya dengan wajah yang berubah pias.
"Kejora? Bagaimana bisa kamu..." Aditya terbata, lidahnya mendadak kelu.
"Bagaimana bisa aku tahu?" Kejora tertawa sumbang, air matanya menetes melewati pipinya yang tirus. "Aku istrimu, Mas! Aku ibu dari anakmu! Kamu pikir aku buta saat kamu diam-diam memesan tiket ke kota ini? Kamu pikir aku tidak tahu kamu masih menyimpan foto Kak Alina di dompetmu?!"
Kejora melangkah masuk ke dalam toko. Setiap langkahnya membuat aroma harum mawar dan lili di ruangan itu seolah lenyap, digantikan oleh atmosfer ketegangan yang mencekam. Bayi di dekapannya menangis semakin kencang, seolah bisa merasakan pergolakan batin sang ibu.
"Kejora, cukup! Tolong bawa Arka pulang, dia sedang sakit!" bentak Aditya, mencoba meraih lengan Kejora, namun perempuan itu menepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku!" teriak Kejora. Ia kemudian mengalihkan pandangannya yang penuh kebencian sekaligus kerapuhan kepada Alina. "Kak Alina... belum puas kah Kakak merebut perhatian Mas Aditya selama pernikahan kalian dulu? Sekarang aku sudah melahirkan anaknya. Dia sudah menjadi milikku seutuhnya! Kenapa Kakak masih mau menerimanya kembali?!"
Alina menarik napas dalam-dalam. Dadanya berdenyut perih, bukan karena cemburu, melainkan karena muak. Mengapa setelah ia pergi sejauh ini, drama menjijikkan ini masih saja menyeretnya masuk?
"Kejora, jaga bicaramu," suara Alina terdengar sangat dingin, begitu tenang hingga membuat Aditya dan Kejora merinding. Alina meletakkan gunting mawarnya di atas meja dengan ketukan yang tegas. "Lihat sekelilingmu. Ini tokoku. Tempat tinggalku. Aku tidak pernah mengundang suamimu datang ke sini. Aku tidak pernah memintanya berlutut memohon di kakiku."
Alina menatap Aditya dengan pandangan penuh penghinaan. "Bawa istrimu dan anakmu pergi dari sini, Aditya. Jangan pernah injak kaki di tokoku lagi."
"Alina, tolong dengarkan aku dulu..." Aditya mencoba memelas, melangkah mendekati Alina.
"Mas Aditya, lihat anakmu!" Kejora menyela, suaranya meninggi, nyaris histeris. Ia menyodorkan bayi dalam dekapannya ke hadapan Aditya. "Dia demam tinggi! Tubuhnya panas, Mas! Tapi kamu malah berada di sini, mengemis cinta pada wanita yang sudah menceraikanmu! Di mana hatimu sebagai seorang ayah?!"


Aditya menoleh ke arah bayinya. Wajah mungil yang sedang menangis itu tampak memerah karena panas. Ada binar penyesalan dan rasa bersalah yang berkecamuk di mata Aditya, namun egonya sebagai pria yang menginginkan Alina kembali membuatnya tertahan di tempat.
Alina melihat pemandangan itu dengan rasa muak yang memuncak. Kejora yang dulu merebut Aditya darinya kini menjelma menjadi wanita yang menyedihkan, mengemis perhatian dari pria yang hatinya tidak pernah benar-benar ada untuknya. Sementara Aditya tetap menjadi pria egois yang tidak tahu cara bertanggung jawab.



"Kalian berdua benar-benar menjijikkan," ucap Alina, suaranya pelan namun tajam menghunjam. "Kalian menghancurkan pernikahanku atas nama cinta, dan sekarang kalian menelantarkan anak kandung kalian sendiri juga atas nama cinta? Keluar dari tokoku sekarang sebelum aku panggil warga untuk mengusir kalian!"
Kejora terisak, memeluk bayinya erat-erat sambil menatap Alina dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa bersalah yang terlambat, dendam, dan kehampaan yang mendalam. Tanpa sepatah kata lagi, Kejora berbalik dan berlari keluar menembus rintik hujan yang mulai turun di kota kecil itu.
"Kejora! Tunggu!" Aditya berteriak. Ia menatap Alina untuk terakhir kalinya, berharap ada secercah kelembutan di mata mantan istrinya. Namun yang ia temukan hanyalah dinding es yang kokoh.



Dengan berat hati dan rasa frustrasi yang memuncak, Aditya akhirnya berbalik dan berlari mengejar Kejora serta anaknya ke dalam kegelapan malam yang mulai turun.
Alina perlahan terduduk di kursi kayu di balik mejanya. Tubuhnya bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena kelegaan yang luar biasa. Ia tahu, lingkaran setan itu tidak akan pernah selesai untuk Aditya dan Kejora. Namun bagi dirinya, babak kehidupan bersama mereka benar-benar telah mati malam ini.
Akankah Aditya dan Kejora kembali ke Jakarta demi kesembuhan anak mereka, ataukah obsesi Aditya pada Alina akan membawa petaka baru? Apakah kamu ingin melanjutkan ke **Bab 6**?



## Bab 6: Memutus Belenggu (Ending)
Malam itu, setelah kepergian Aditya dan Kejora, hujan turun begitu lebat, membilas jalanan di depan toko bunga Alina. Di dalam kesunyiannya, Alina perlahan mengunci pintu rapat-rapat. Ia menarik napas panjang, merasakan udara segar tanpa beban yang sudah lama tidak ia hirup. Drama tadi sore bukanlah akhir dari kedamaiannya, melainkan sebuah konfirmasi bahwa keputusan menjauh adalah hal terbaik yang pernah ia ambil.
Sementara itu, beberapa ratus meter dari toko Alina, di bawah guyuran hujan deras di sebuah halte bus yang sepi, puncak dari segala ego akhirnya meledak.
Aditya berhasil menarik lengan Kejora. "Kejora! Berhenti! Kita bawa Arka ke klinik terdekat sekarang, tubuhnya semakin panas!" bentaknya di antara gemuruh suara hujan.
Kejora berbalik, wajahnya basah oleh air hujan yang bercampur air mata. Ia memeluk Arka yang kini tangisnya mulai melemah karena lemas. "Kenapa, Mas? Kenapa baru sekarang kamu peduli? Karena Kak Alina mengusirmu?! Kalau saja dia menerimamu kembali, apa kamu akan tetap mengingat anak ini?!"
"Cukup, Kejora! Aku lelah!" Aditya berteriak frustrasi, menyugar rambutnya yang basah kuyup. "Aku memang bersalah pada Alina, tapi aku ada di sini sekarang untukmu dan Arka! Apa itu belum cukup?!"
"Tidak akan pernah cukup, Mas!" Suara Kejora mendadak melandai, terdengar begitu hampa dan lelah. "Karena aku sadar... merebutmu dari Kak Alina adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku mendapatkan tubuhmu, statusmu, bahkan anakmu. Tapi aku tidak pernah mendapatkan hatimu. Kita membangun rumah di atas air mata orang lain, dan sekarang rumah itu runtuh menimpa kita sendiri."
Aditya tertegun. Kata-kata Kejora menghantam kesadarannya yang paling dalam. Di bawah temaram lampu halte, ia menatap wanita yang dulu ia pikat dalam bayang-bayang perselingkuhan, kini tampak begitu rapuh dan hancur karena ulah egonya sendiri.
"Besok... kita pulang ke Jakarta, Mas. Urus pengobatan Arka," ucap Kejora pelan, memalingkan wajahnya dari Aditya. "Setelah Arka sembuh, lepaskan aku. Aku tidak ingin hidup dalam belenggu ini lagi."
Aditya tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa berdiri terpaku, menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya: Alina yang menjadi rumah terbaiknya, dan kini Kejora yang memutuskan untuk menyerah pada ilusi cinta mereka. Mereka mendapatkan hukuman yang paling setimpal—hidup bersama dalam penyesalan dan rasa bersalah yang tak akan pernah usai.
Satu tahun kemudian.
Pagi yang cerah di kota kecil pinggiran Jawa Tengah. Toko bunga *Alina's Florist* tampak semakin cantik, dipenuhi oleh mekarnya bunga-bunga segar yang beraroma harum.
Alina berdiri di depan cermin kecil di tokonya, menyematkan seuntai bunga lili putih di rambutnya yang digulung rapi. Tidak ada lagi sisa kesedihan di matanya. Yang ada hanyalah binar wanita mandiri yang telah berhasil menyembuhkan dirinya sendiri.
Sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan toko, membawa pasokan bunga matahari segar yang baru dipetik dari perkebunan. Seorang pria muda dengan senyum ramah turun dan menyapa Alina dengan sopan.
"Pagi, Mbak Alina. Ini pesanan bunga matahari untuk minggu ini, semuanya segar-segar," ucapnya hangat.
"Pagi. Wah, terima kasih ya, Mas. Tolong bawa langsung ke dalam," jawab Alina dengan senyuman manis yang begitu lepas.
Alina memandang ke arah langit biru yang cerah di luar tokonya. Ia tahu, di suatu tempat di Jakarta, Aditya dan Kejora mungkin masih berjuang menyembuhkan luka dan menghadapi konsekuensi dari pilihan masa lalu mereka. Namun, itu bukan lagi urusannya.
Alina telah berhasil memutus belenggu yang dulu mengikat hatinya. Kini, ia tidak lagi menjadi tokoh utama dalam sinetron penuh penderitaan, melainkan penulis utama dari kisah hidupnya sendiri yang penuh dengan kebahagiaan baru.
**-- TAMAT --**


1 komentar:

Balas dendam seorang ibu kepada pria angkuh "keangkuhan di atas awan"

Namaku Amelia. Hari itu adalah salah satu hari terberat dalam hidupku. Aku sedang dalam penerbangan kembali ke Jakarta dari Surabaya setelah...