AIR SUSU YANG TERTUKAR

Tangis bayi di gendongan Lastri pecah untuk kesekian kalinya malam itu. Bayinya sendiri, yang baru berusia tiga bulan, terbaring lemas di atas kasur tipis beralaskan jarik di sudut kamar kontrakan mereka yang sempit. Namun, tangan Lastri tidak sedang memeluk darah dagingnya sendiri. Ia sedang sibuk menimang-nimang Elvano, bayi laki-laki majikannya yang berkulit bersih dan bermata bulat.

"Cup, cup, Sayang... Anak ganteng jangan menangis lagi, ya," bisik Lastri dengan suara parau.

Sambil duduk di tepi ranjang mewah milik majikannya, Lastri perlahan menyusui Elvano. Bayi itu langsung tenang, menyusu dengan lahap hingga akhirnya tertidur pulas dalam dekapannya. Lastri menatap wajah polos itu dengan perasaan campur aduk—ada rasa kasih sayang yang tulus, namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa perih yang luar biasa meremukkan dadanya.

Dari balik sekat kamar, sayup-sayup terdengar tangisan bayinya sendiri, Bagas, yang sedang dijaga oleh suaminya. Bagas menangis bukan karena manja, melainkan karena kelaparan.

*“Aku ibu, tapi bukan untuk anakku sendiri...”* batin Lastri perih. Air matanya menetes, jatuh tepat di pipi Elvano yang sedang tertidur.

Semua ini bermula ketika Nyonya Lydia, majikan tempat Lastri bekerja sebagai asisten rumah tangga, mengalami kondisi medis yang membuatnya tidak bisa mengeluarkan ASI setelah melahirkan. Di sisi lain, Lydia menolak keras memberikan susu formula karena ingin bayinya mendapatkan ASI eksklusif demi kesehatannya. Mengetahui Lastri juga baru saja melahirkan dan memiliki ASI yang melimpah, Lydia menawarkan sebuah perjanjian.

"Lastri, tolong susui Elvano. Saya akan bayar kamu tiga kali lipat dari gajimu sekarang. Tapi syaratnya, kamu harus fokus menjaga Elvano. Biarkan anakmu di rumah diberi susu formula saja," kata Lydia malam itu sambil menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

Bagi Lastri dan suaminya yang hanya seorang buruh serabutan, tawaran itu seperti oase di tengah gurun. Mereka sedang terlilit utang kontrakan dan biaya pengobatan ibunya yang sakit sakitan. Dengan berat hati dan air mata tertahan, Lastri menerima tawaran itu. Ia merelakan hak bayinya sendiri demi kelangsungan hidup mereka.

Kini, setiap hari Lastri harus menahan dada yang sesak menahan rindu dan rasa bersalah. Ironi kehidupan terpampang jelas di depan matanya. Saat Elvano mendapatkan kehangatan ASI eksklusif langsung dari dadanya, Bagas di rumah hanya bisa meminum susu formula murah dari botol plastik yang dotnya sudah mulai mengeras.

Suatu malam, ketika Lastri baru saja meletakkan Elvano ke dalam boks bayinya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari suaminya masuk: *“Bu, Bagas demam tinggi. Dia muntah-muntah, sepertinya tidak cocok dengan susu formula yang baru kita beli.”*

Tangan Lastri gemetar. Ia langsung berlari menemui Lydia untuk meminta izin pulang malam itu juga.

"Nyonya, saya mohon izin pulang sebentar. Anak saya sakit.







dia demam dan muntah," ratap Lastri dengan air mata yang sudah mengalir deras.

Lydia menatapnya dengan dingin dari balik meja kerjanya. "Lastri, kamu tahu kan perjanjian kita? Elvano baru saja tidur dan dia sering terbangun di tengah malam. Kalau kamu pulang dan Elvano bangun lalu menangis, siapa yang mau menyusuinya? Saya sudah bayar kamu mahal untuk siaga di sini."

"Tapi Nyonya, Bagas itu anak kandung saya... Dia butuh ibunya," bisik Lastri, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Kalau kamu nekat pulang malam ini, kamu saya pecat. Dan jangan harap sisa gaji bulan ini akan saya bayar," ancam Lydia tegas.

Lastri berdiri terpaku di tengah ruangan yang megah namun terasa begitu dingin. Di satu sisi, ada Bagas yang sedang bertaruh nyawa dengan demamnya di rumah kontrakan yang bocor. Di sisi lain, ada ancaman kemiskinan yang siap menggulung keluarganya jika ia kehilangan pekerjaan ini.

Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lastri melangkah kembali ke kamar bayi. Ia duduk di pojok ruangan, memeluk kedua lututnya, dan menangis tanpa suara. Malam itu, ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya: kemiskinan telah merenggut haknya untuk menjadi seorang ibu bagi anaknya sendiri.

Keesokan paginya, tanpa memedulikan ancaman pecat atau upah yang ditahan, Lastri mengemas pakaiannya. Rasa bersalah sebagai seorang ibu akhirnya mengalahkan rasa takutnya akan kemiskinan. Ia berlari pulang menembus gerimis pagi.

Begitu pintu kontrakan dibuka, ia melihat suaminya sedang mengompres Bagas yang wajahnya sudah pucat pasi. Tanpa membuang waktu, Lastri langsung merengkuh tubuh mungil Bagas ke dalam pelukannya. Tangisnya pecah seketika saat menyodorkan dadanya yang sudah bengkak menahan ASI sejak semalam.

Bagas yang lemas perlahan mulai menyusu. Sentuhan kulit ke kulit antara ibu dan anak itu menghadirkan kehangatan yang luar biasa di dalam kamar yang sempit tersebut.

"Maafkan Ibu, Nak... Maafkan Ibu," bisik Lastri berulang kali sambil mencium kening bayinya yang panas.

Meski tahu hari esok akan terasa lebih berat tanpa pekerjaan dan tanpa uang, Lastri merasa utuh kembali. Mulai hari itu, ia berjanji tidak akan pernah lagi menukar air susu dan kasih sayangnya dengan materi seberapa pun besarnya. Karena bagi seorang ibu, pelukan anaknya adalah harta yang tidak punya harga.




## Bab 2: Pilihan di Ujung Jalan

Tiga hari telah berlalu sejak Lastri memutuskan untuk meninggalkan rumah Nyonya Lydia. Demam Bagas perlahan mulai turun, meski tubuh bayi mungil itu masih tampak letih. Namun, ketenangan di dalam kontrakan sempit itu tidak bertahan lama. Realitas hidup yang sesungguhnya kini mulai mengetuk pintu mereka dengan keras.

Sore itu, Lastri duduk di lantai beralaskan tikar pandan yang sudah robek di beberapa bagian. Di hadapannya, beberapa lembar tagihan menumpuk: uang sewa kontrakan yang sudah menunggak dua bulan, bon warung sembako milik Bu RT, dan resep obat Bagas yang belum sempat ditebus seluruhnya.

"Bu," panggil tulus sang suami, Rustam, yang baru saja masuk dengan baju yang basah oleh keringat. Ia meletakkan topi kumalnya di atas meja kayu. "Hari ini pangkalan sepi sekali. Hanya ada dua tarikan muatan kayu. Ini... cuma cukup untuk beli beras literan dan tempe."

Rustam menyerahkan beberapa lembar uang ribuan yang sudah lecek ke tangan Lastri. Lastri tersenyum getir, mencoba menghargai kerja keras suaminya yang bekerja serabutan dengan motor Jupiter Z tua miliknya. Namun, dalam hati, ia tahu uang itu tidak akan cukup untuk bertahan hingga akhir minggu.

"Tidak apa-apa, Pak. Yang penting anak kita sudah mau menyusu lagi dan badannya tidak sepanas kemarin," kata Lastri mencoba menghibur, sambil melirik Bagas yang sedang tertidur pulas.

Saat mereka sedang terdiam merenungi nasib, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang keras dari luar. *Tok! Tok! Tok!*

"Lastri! Rustam! Keluar kamu!"

Mendengar suara bariton yang sangat mereka kenal, jantung Lastri berdegup kencang. Itu adalah suara Pak Joko, pemilik kontrakan. Rustam bergegas membuka pintu, sementara Lastri mengekor di belakangnya dengan perasaan cemas.

Di ambang pintu, Pak Joko berdiri dengan berkacak pinggang. "Saya tidak mau tahu lagi, ya. Janji kalian bulan lalu mana? Ini sudah lewat tanggal dua puluh! Kalau besok malam kalian belum bayar uang sewa yang menunggak dua bulan itu, angkat kaki dari sini! Banyak orang lain yang antre mau pakai kamar ini!"

"Tolong, Pak Joko... Beri kami waktu seminggu lagi. Anak kami baru saja sakit—" Rustam mencoba memohon dengan suara bergetar.

"Ah, alasan klasik! Pokoknya besok malam! Kalau tidak ada uangnya, silakan keluar!" potong Pak Joko kasar sebelum akhirnya berbalik dan pergi begitu saja.

Malam itu, suasana kontrakan terasa begitu mencekam. Lastri memeluk Bagas dengan erat, sementara Rustam hanya bisa terduduk di sudut ruangan dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Kemiskinan seolah sedang perlahan-lahan mencekik mereka, tanpa memberi ruang untuk bernapas.

Keesokan paginya, sebuah taksi mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan lorong gang kontrakan Lastri. Kehadiran mobil itu tentu saja mengundang perhatian warga sekitar. Dari dalam mobil, turunlah Nyonya Lydia dengan pakaian yang rapi dan elegan, kontras dengan lingkungan kumuh di sekitarnya.

Lydia berjalan menyusuri gang becek itu dengan langkah angkuh, hingga akhirnya sampai di depan pintu kontrakan Lastri yang terbuka sedikit.

"Permisi," ucap Lydia dingin.

Lastri yang sedang melipat pakaian menoleh dan terkejut setengah mati melihat mantan majikannya berada di sana. "Nyonya Lydia? Ada apa ke sini?"

Lydia masuk tanpa dipersilakan, melirik sekilas ke sekeliling ruangan yang pengap sebelum mengarahkan pandangannya langsung ke mata Lastri. Wajah Lydia tampak sedikit pucat, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

"Saya ke sini bukan untuk berdebat, Lastri. Saya butuh kamu kembali sekarang juga," kata Lydia tanpa basa-basi. "Sejak kamu pergi, Elvano tidak mau menyusu sama sekali. Dia menolak susu formula, dan dia menangis histeris setiap malam sampai suaranya habis. Berat badannya turun, dan dokter bilang dia bisa dehidrasi kalau terus begini."

Lastri tersentak. Rasa keibuannya terusik mendengar kondisi Elvano. Bagaimanapun, ia telah menyusui bayi itu selama dua bulan dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

"Tapi Nyonya... anak saya, Bagas, juga butuh saya," jawab Lastri pelan, mencoba mempertahankan prinsipnya.

Lydia mendengus, lalu membuka tas jinjingnya yang mahal. Ia mengeluarkan seikat uang pecahan seratus ribu yang masih baru dan meletakkannya di atas meja kayu yang rapuh.

"Ini sepuluh juta rupiah. Ini uang muka untukmu," kata Lydia tegas. "Bayar semua utang-utangmu, tebus obat anakmu, dan belikan dia susu formula yang paling mahal di supermarket. Dan kali ini, saya izinkan kamu membawa anakmu ke rumah saya. Tapi ingat, tugas utamamu adalah tetap menyusui dan menjaga Elvano terlebih dahulu. Anakmu bisa dijaga oleh pengasuh lain yang akan saya sewa."

Lastri menatap tumpukan uang di atas meja itu dengan pandangan kosong. Sepuluh juta rupiah. Angka itu bisa menyelesaikan semua masalahnya dalam sekejap. Pak Joko tidak akan mengusir mereka, utang warung akan lunas, dan Bagas bisa mendapatkan fasilitas yang layak.

Namun, di dalam kepalanya, kalimat yang sama kembali terngiang: *Aku ibu, tapi bukan untuk anakku sendiri...* Jika ia kembali ke rumah itu, meskipun membawa Bagas, ia tahu bahwa perhatian dan air susunya akan tetap menjadi milik anak orang lain demi uang. Bagas-nya akan tetap tersisih di sudut ruangan, menonton ibunya memberikan kehangatan kepada bayi lain.

Lastri menatap uang itu, lalu beralih menatap wajah polos Bagas yang sedang terbangun dan mulai merengek kecil di atas kasur. Di ujung jalan yang penuh himpitan ekonomi ini, Lastri dihadapkan pada pilihan paling kejam dalam hidupnya: menjual kembali hak asasi bayinya demi menyambung hidup, atau bertahan dalam kemiskinan bersama bayinya dengan risiko terusir ke jalanan.



## Bab 3: Suara Hati Seorang Ibu

Uang sepuluh juta rupiah di atas meja kayu itu tampak berkilau, seolah mengejek dinding-dinding tripleks kontrakan Lastri yang mulai berjamur. Napas Lastri tertahan di tenggorokan. Bagi orang seperti Nyonya Lydia, uang itu mungkin hanya seharga tas kecil atau makan malam di restoran mewah. Namun bagi Lastri, uang itu adalah jaminan bahwa malam ini keluarganya tidak akan tidur di emperan toko.

Rustam, yang baru saja kembali dari kamar mandi di luar gang, terpaku di ambang pintu. Matanya menatap bergantian antara seikat uang tebal itu, wajah Nyonya Lydia yang angkuh, dan istrinya yang gemetar.

"Bagaimana, Lastri? Tidak perlu berpikir terlalu lama," desak Lydia sambil melirik jam tangan emasnya. "Sopir saya sudah menunggu di depan gang. Elvano sedang menangis histeris di rumah. Setiap detik yang kamu buang adalah penderitaan bagi anak saya."

Lastri melangkah mendekati Bagas yang mulai menggeliat bangun. Ia menggendong bayi mungilnya itu, memeluknya erat-erat ke dadanya. Bagas menatap ibunya dengan mata bulat yang bening, seolah bisa merasakan kecemasan yang sedang berkecamuk di dalam jiwa wanita yang melahirkannya.

"Nyonya..." Suara Lastri terdengar serak, namun ada nada ketegasan yang perlahan muncul dari balik kerapuhannya. "Uang ini... uang ini bisa menyelamatkan kami dari amukan Pak Joko. Uang ini bisa membeli susu formula terbaik untuk Bagas."

Lydia tersenyum tipis, merasa di atas angin. "Bagus kalau kamu paham. Ayo kemasi baju-bajumu dan—"

"Tapi uang ini tidak bisa membeli kembali waktu saya yang hilang untuk anak saya sendiri," potong Lastri cepat. Air matanya menetes, namun tatapannya lurus menembus manik mata Lydia.

Lydia tersentak, senyumnya langsung pudar.

"Dua bulan ini, setiap kali saya menyusui Elvano, hati saya menangis mendengar Bagas kelaparan di rumah ini. Saya melihat anak Nyonya tumbuh sehat dengan air susu saya, sementara anak kandung saya sendiri badannya menyusut karena tidak cocok dengan susu formula murah," ucap Lastri dengan suara yang bergetar hebat karena emosi yang tertahan. "Saya memang miskin, Nyonya. Tapi saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Saya tidak akan membiarkan Bagas merasa asing dipelukan ibunya sendiri hanya karena saya sibuk menyusui anak orang lain."

"Kamu menolak?" Lydia berdiri, wajahnya memerah karena tidak percaya ada orang miskin yang berani menolak uangnya. "Kamu tahu kan konsekuensinya? Kamu akan diusir malam ini! Anakmu bisa makin sakit kalau kalian telantar di jalanan!"

"Saya yang akan bertanggung jawab atas anak dan istri saya, Nyonya," potong Rustam yang tiba-tiba melangkah maju, berdiri melindungi Lastri dan Bagas. "Kami berterima kasih atas tawaran Nyonya. Tapi istri saya benar. Kami akan cari jalan lain untuk membayar kontrakan, meskipun saya harus menarik muatan dengan Jupiter Z saya sampai tengah malam tanpa tidur. Silakan Nyonya bawa kembali uang ini."

Lydia menatap pasangan suami istri itu dengan pandangan geram sekaligus tidak percaya. Dengan kasar, ia menyambar kembali seikat uang di atas meja, memasukkannya ke dalam tas, dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suara sepatu hak tingginya terdengar menghentak keras di lantai semen, lalu perlahan menghilang di ujung gang.

Setelah kepergian Lydia, keheningan yang pekat kembali melingkupi ruangan. Ketakutan akan hari esok masih ada, bahkan terasa makin nyata. Namun, entah mengapa, udara di dalam kontrakan sempit itu terasa lebih lega untuk dihirup.

Lastri duduk di tepi kasur, lalu perlahan membuka kancing bajunya. Bagas langsung mencari-cari sumber kehangatan itu dan menyusu dengan lahap. Lastri mengusap rambut tipis bayinya dengan penuh kasih sayang.

"Maafkan Bapak dan Ibu ya, Nak... Kita mungkin akan kesusahan setelah ini, tapi Ibu janji, Ibu tidak akan pernah melepaskan kamu lagi," bisik Lastri lirik.

Rustam berlutut di samping istrinya, merangkul pundak Lastri dengan tangan kasarnya yang legam akibat kerja keras. "Kita hadapi sama-sama, Bu. Besok pagi-pagi sekali, Bapak akan ke pasar. Katanya ada juragan beras yang butuh kuli panggul tambahan. Upahnya lumayan untuk mencicil utang ke Pak Joko."

Malam itu, tepat jam delapan malam, Pak Joko benar-benar datang menagih janji. Namun, melihat keteguhan hati Rustam yang menyerahkan seluruh uang hasil tarikan hari itu sebagai jaminan, ditambah jaminan STNK motor tuanya, Pak Joko akhirnya melunak dan memberikan mereka kelonggaran waktu dua minggu lagi.

Hambatan hidup mereka memang belum selesai, dan jalan di depan masih teramat panjang serta berliku. Namun bagi Lastri, saat ia melihat Bagas tertidur pulas kekenyangan dengan sisa ASI di sudut bibirnya, ia tahu ia telah mengambil keputusan yang benar. Ia mungkin tidak memiliki harta berlimpah, tetapi malam ini, ia adalah seorang ibu yang seutuhnya—ibu yang menyusui dan memeluk darah dagingnya sendiri dengan penuh cinta, tanpa sekat, dan tanpa harga yang bisa ditawar oleh materi.


## Bab 4: Cahaya di Ujung Badai (Ending)

Dua minggu berlalu seperti putaran roda yang tiada henti. Rustam benar-benar menepati janjinya. Saban subuh, ia sudah memacu motor Jupiter Z tuanya menuju pasar induk untuk menjadi kuli panggul. Siangnya, ia lanjut mencari muatan apa saja yang bisa diangkut. Wajahnya makin legam terbakar matahari, dan badannya kian kurus, namun matanya memancarkan binar tekad yang tak pernah padam.

Lastri pun tidak tinggal diam. Di sela-sela waktu menyusui Bagas, ia mulai menerima jahitan baju anak-anak dari tetangga sekitar dan membuat gorengan titipan untuk warung Bu RT. Rasa lelah yang mendera seolah menguap setiap kali Lastri menatap Bagas yang kian hari kian gemuk dan menggemaskan. Kulit bayi itu kembali segar, dan tawanya mulai meramaikan kontrakan mereka yang sepi.

Pada hari yang dijanjikan, Rustam berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk melunasi tunggakan kontrakan kepada Pak Joko. Sore itu, saat Pak Joko menerima uangnya dengan senyum lebar dan mengembalikan STNK motor Rustam, Lastri bernapas lega luar biasa. Beban besar yang selama ini menggelayuti pundaknya luruh seketika.

Satu bulan kemudian, sebuah kejutan tak terduga datang ke kontrakan mereka. Seorang wanita paruh baya berpenampilan bersahaja datang mencari Lastri. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Ibu Lastri juga—Ibu Rahma, pemilik sebuah yayasan panti asuhan dan tempat penitipan anak mandiri di daerah pusat kota.

"Saya mendengar cerita tentang kamu dari salah satu tetangga jauhmu yang bekerja di tempat saya, Lastri," kata Ibu Rahma ramah sembari memangku Bagas yang langsung anteng di pelukannya. "Saya sedang mencari pengasuh sekaligus kepala dapur untuk tempat penitipan anak kami. Di sana, banyak ibu-ibu pekerja harian yang menitipkan bayinya. Saya butuh seseorang yang jujur, tegar, dan punya kasih sayang tulus seperti kamu."

Ibu Rahma menawarkan upah yang sangat layak, fasilitas tempat tinggal di paviliun kecil panti, dan yang paling penting: Lastri diizinkan membawa Bagas setiap hari selama bekerja.

"Kamu bisa bekerja sambil tetap mengawasi dan menyusui anakmu sendiri. Bagaimana?" tanya Ibu Rahma hangat.

Air mata Lastri jatuh mendengarkan tawaran itu, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata rasa syukur yang membuncah. Ia menatap Rustam yang langsung mengangguk mantap dengan mata berkaca-kaca.

"Saya mau, Ibu... Saya sangat mau. Terima kasih banyak," jawab Lastri dengan suara bergetar.

Seminggu kemudian, Lastri, Rustam, dan Bagas resmi pindah dari kontrakan sempit mereka yang lama. Paviliun baru mereka di lingkungan panti jauh lebih bersih, sehat, dan terang. Rustam kini mendapat pekerjaan tetap sebagai sopir operasional yayasan panti asuhan tersebut, sebuah pekerjaan yang jauh lebih stabil untuk masa depan mereka.

Pada suatu sore yang cerah, Lastri duduk di beranda paviliun sambil menyusui Bagas yang kini sudah bisa memegang botol kosongnya sendiri dengan tangan mungilnya. Angin sore berembus lembut, memainkan ujung jilbab Lastri.

Dari kejauhan, ia melihat suaminya baru saja memarkirkan mobil panti dan berjalan ke arah mereka dengan senyum lebar. Lastri menunduk, menatap Bagas yang perlahan melepaskan susuannya lalu memberikan senyuman paling manis tanpa dosa kepada ibunya.

Lastri memeluk erat tubuh Bagas, menghirup dalam-dalam aroma khas bayinya yang kini terasa begitu menenangkan. Perjuangan dan air mata yang mengalir selama berbulan-bulan lalu kini telah berbuah manis. Kemiskinan memang hampir saja merenggut segalanya, namun keteguhan hatinya untuk tidak menukar air susu dan pelukan keibuannya dengan materi telah menyelamatkan jiwa mereka.

Kini, Lastri tahu ia bukan lagi seorang ibu untuk anak orang lain. Ia telah kembali seutuhnya—menjadi madrasah pertama, pelindung, dan pemilik cinta paling tulus bagi darah dagingnya sendiri, mengalirkan kehidupan lewat air susunya yang tak lagi tertukar oleh apa pun di dunia ini.


Tamat




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Balas dendam seorang ibu kepada pria angkuh "keangkuhan di atas awan"

Namaku Amelia. Hari itu adalah salah satu hari terberat dalam hidupku. Aku sedang dalam penerbangan kembali ke Jakarta dari Surabaya setelah...