Belenggu Penyesalan
Langkah kaki Iren terasa amat berat saat memasuki ruang kerja atasannya. Di dalam kepalanya, bayangan wajah renta Nek Yeti dan cucunya, Fitri, terus berputar. Iren tahu apa yang harus ia sampaikan, namun hatinya menolak keras tugas ini.
"Ada apa, Iren?" tanya sang atasan begitu melihat raut wajahnya yang mendung.
"Ini soal Nek Yeti, Pak... Apakah kita benar-benar tidak bisa memberikan tenggat waktu lagi untuknya? Kasihan dia," pinta Iren dengan suara bergetar.
Atasannya menghela napas panjang, lalu menggeleng. "Iren, saya tahu kamu orang yang sangat baik. Wajah dan hatimu sama-sama cantik. Tapi ini sudah yang ketiga kalinya dia menunggak. Ini prosedur perusahaan. Jika hari ini tidak ada pembayaran, rumahnya terpaksa harus kita sita."
Dengan hati yang hancur, Iren terpaksa mendatangi rumah kayu sederhana milik Nek Yeti. Di sana, sang nenek langsung menangis histeris begitu mendengar keputusan mutlak dari kantor tempat Iren bekerja.
"Saya mohon, Bu... Jangan sita rumah ini. Kalau rumah ini diambil, saya dan cucu saya mau tinggal di mana?" ratap Nek Yeti sambil memegangi kaki Iren.
Iren ikut berkaca-kaca. Ia berlutut, mencoba menenangkan wanita tua itu. "Nek, saya benar-benar minta maaf. Saya sudah berusaha bicara dengan atasan saya, tapi ini peraturan perusahaan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa..."
Mendengar kepasrahan Iren, kesedihan Nek Yeti mendadak berubah menjadi amarah yang meluap-luap. Ia berdiri dengan gemetar, matanya menatap tajam penuh dendam.
"Kamu tidak punya hati nurani! Kamu kejam pada orang susah seperti kami!" bentak Nek Yeti dengan napas memburu. "Ingat kata-kata saya! Kalau kamu sampai menyita rumah ini, hidupmu akan apes! Kamu akan menerima akibatnya!"
Namun, takdir berkata lain. Sebelum proses penyitaan selesai, guncangan emosi yang terlalu besar membuat dada Nek Yeti sesak. Ia jatuh pingsan di tempat. Iren yang panik segera menghubungi ambulans, namun semuanya sudah terlambat. Nek Yeti mengembuskan napas terakhirnya di tengah jerit tangis Fitri, cucunya yang kini sebatang kara.
Sejak hari pemakaman itu, hidup Iren tidak pernah tenang. Kutukan terakhir Nek Yeti seolah menjelma menjadi bayang-bayang nyata yang mengurung warasnya.
Suatu malam, Iren terbangun dari tidurnya karena mendengar suara batuk yang sangat berat. *Uhuk... uhuk...*
Ia melirik suaminya, Masah, yang masih tertidur pulas. Iren mengira itu suara ibu mertuanya, maka ia memutuskan untuk keluar kamar dan memeriksa keadaan. Namun, saat mengintip ke kamar mertuanya, wanita tua itu sedang tidur dengan sangat nyenyak.
Lalu, suara batuk siapa itu? Suara itu terdengar parau, kering, dan sangat khas.
*Nek Yeti...*
Bulu kuduk Iren berdiri. Suara batuk itu kini terdengar jelas dari arah halaman depan rumah. Dengan tangan gemetar, Iren membuka sedikit tirai jendela. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat sesosok wanita tua berdiri di kegelapan malam, menatap lurus ke arah jendela kamarnya.
"Mas! Masah, bangun Mas!" teriak Iren histeris sambil mengguncang tubuh suaminya.
"Ada apa sih, Ren? Malam-malam begini," gumam Masah sambil mengucek mata.
"Aku lihat Nek Yeti di depan rumah, Mas! Beneran!"
Masah menghela napas, menganggap istrinya hanya berhalusinasi karena terus-menerus merasa bersalah atas kematian nasabahnya. "Nek Yeti kan sudah meninggal, Ren. Kamu cuma kecapekan. Sudah, tidur lagi."
Keesokan harinya, saat Iren sedang berjalan di dekat area pasar, takdir mempertemukannya kembali dengan Fitri. Gadis muda itu terlihat sangat lusuh, mengenakan pakaian kotor, dan duduk di pinggir jalan.
"Fitri? Kenapa kamu ada di sini? Pakaian kamu..." Iren menutup mulutnya, tak tega.
"Aku terpaksa tinggal di jalanan, Bu. Rumah nenek sudah disita, dan ibuku baru bisa pulang sebulan lagi," jawab Fitri lirih sambil menunduk.
Rasa bersalah yang menggunung di dada Iren seketika mengetuk pintu batinnya. Ini adalah kesempatannya untuk menebus dosa. "Fit, kalau begitu, kamu ikut tinggal di rumahku saja ya? Sementara waktu, sampai ibumu pulang."
Fitri mendongak, matanya berbinar haru. "Benar, Bu? Aku mau..."
Iren membawa Fitri pulang. Ia berharap, dengan merawat cucu dari mendiang Nek Yeti, kutukan dan rasa bersalah yang menghantuinya bisa perlahan sirna.
Namun, malam itu, teror justru semakin menjadi-jadi.
Saat seisi rumah sudah terlelap, keheningan malam pecah oleh suara yang ganjil. *Tok... tok... tok...*
Itu bukan ketukan pintu, melainkan suara kayu yang dihentakkan ke lantai. Suara tongkat jalan milik seorang lansia.
Iren memeluk gulingnya erat-erat, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasinya lagi. Namun, suara *tok... tok... tok...* itu terdengar semakin mendekat, melangkah menyusuri lorong rumahnya. Suara itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
Iren memberanikan diri membuka mata. Di balik celah bawah pintu, ia melihat bayangan hitam berdiri diam. Bersamaan dengan itu, aroma tanah kuburan yang basah menyeruak masuk ke dalam kamar.
"Aaakh!" Iren menjerit histeris seraya menutup telinganya.
Masah kembali terbangun, terkejut melihat istrinya yang sudah menangis ketakutan di sudut tempat tidur. "Iren! Kamu kenapa lagi?!"
"Nek Yeti, Mas... Dia ada di depan pintu! Dia datang menagih kutukannya!" teriak Iren di sela tangisnya.
Masah segera bangkit dan memeriksa keluar kamar untuk menenangkan istrinya, namun lorong rumah itu kosong melongpong. Iren sadar, meski ia telah menampung Fitri, misteri kutukan dari perempuan tua itu belum benar-benar selesai. Penyesalan dan kesalahan masa lalu akan terus mengincarnya, hingga ia menemukan cara untuk benar-benar berdamai dengan masa lalu.
## Bab 2: Tamu di Tengah Malam
Pagi hari di kediaman Iren tidak lagi terasa hangat. Meskipun matahari bersinar terik menembus jendela dapur, hawa dingin yang ganjil seolah tetap tertinggal di setiap sudut ruangan.
Iren berdiri di depan kompor, mengaduk nasi goreng dengan pikiran yang melayang jauh. Lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas bahwa ia kembali melewati malam tanpa tidur.
"Pagi, Bu Iren," sapa Fitri lembut, memecah lamunan Iren. Gadis itu sudah rapi dengan pakaian bersih yang dipinjamkan Iren kemarin.
Iren tersenyum paksa, mencoba menyembunyikan sisa ketakutan semalam. "Pagi, Fit. Gimana tidurmu? Nyenyak?"
"Nyenyak banget, Bu. Kasurnya empuk. Terima kasih banyak ya, Bu, sudah boleh menumpang di sini," jawab Fitri tulus, meski terselip nada sedih saat teringat mendiang neneknya.
Tak lama kemudian, Masah masuk ke dapur dengan wajah masam. Ia langsung duduk di meja makan tanpa menyapa Iren. Kejadian semalam—jeritan histeris Iren yang merusak jam tidurnya—jelas membuat suaminya itu mulai kehilangan kesabaran.
"Mas, ini kopi dan sarapannya," kata Iren pelan, menyodorkan piring.
Masah hanya bergumam ketus. Sebelum menyendok makanannya, ia menatap Iren tajam. "Ren, aku harap malam ini kamu enggak usah drama lagi. Aku capek kerja seharian. Jangan sampai ketakutan kamu yang enggak jelas itu mengganggu seisi rumah, apalagi sekarang ada Fitri di sini."
Iren hanya bisa menunduk, menelan bulat-bulat rasa perih di hatinya. Masah tidak pernah tahu rasanya diburu oleh rasa bersalah yang menjelma menjadi teror nyata.
Hari pun berganti malam. Iren sengaja menyibukkan diri menjelang tidur, berharap tubuhnya yang lelah bisa langsung terlelap tanpa gangguan. Namun, ketakutan itu seperti alarm yang otomatis berbunyi begitu jam dinding melewati angka dua belas.
Suasana rumah sangat senyap. Masah sudah mendengkur halus di sampingnya. Iren mencoba memejamkan mata, memeluk lengannya sendiri untuk mengusir rasa cemas.
*Uhuk... uhuk...*
Jantung Iren mencelos. Suara batuk parau itu kembali terdengar. Kali ini, suaranya bukan dari halaman depan, bukan pula dari balik pintu kamar, melainkan dari dalam kamar mandi yang terletak tepat di dalam kamar tidur mereka.
*Uhuk... uhuk...* Suara itu terdengar basah, berat, dan menyakitkan. Seseorang sedang batuk di sana, di dalam kegelapan kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka.
Iren membeku. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia ingin membangunkan Masah, namun tangannya mendadak kaku, tak mampu bergerak. Dengan sisa keberanian yang ada, Iren mengarahkan pandangannya ke celah pintu kamar mandi yang remang-remang.
Dari balik celah itu, perlahan-lahan muncul sebuah tangan yang keriput dengan kuku-kuku yang menghitam, mencengkeram kusen pintu. Menyusul setelahnya, sebuah wajah tua dengan rambut putih yang acak-acakan menyembul dari kegelapan.
Itu wajah Nek Yeti. Matanya yang melotot tajam menatap lurus ke arah Iren, memancarkan kemarahan yang sama persis seperti saat ia mengutuk Iren di hari kematiannya. Mulutnya terbuka, bergerak tanpa suara, seolah sedang mengulang kalimat: *"Hidupmu akan apes..."*
"Aaakh! Pergi! Maafkan aku, Nek! Pergi!" Iren menjerit histeris, menarik selimut hingga menutupi seluruh kepalanya sambil menangis sejadi-jadinya.
"Iren! Astaga, kamu gila ya?!" Masah tersentak bangun, langsung menyalakan lampu kamar. Ia menarik selimut yang menutupi wajah istrinya yang sudah basah oleh air mata dan keringat.
"Di sana, Mas... Nek Yeti di kamar mandi... Dia melihatku!" raung Iren sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Masah, dengan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun, berjalan cepat ke kamar mandi dan membukanya lebar-lebar. "Lihat! Kosong, Iren! Nggak ada siapa-siapa! Cuma ada gayung sama bak air!" bentak Masah frustrasi. "Kamu ini benar-benar keterlaluan. Besok kita ke psikiater. Aku nggak tahan kalau tiap malam harus kayak gini!"
Tepat setelah Masah menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar tidur mereka tiba-tiba diketuk dari luar. *Tok... tok... tok...*
Masah terdiam. Iren menahan napasnya.
Dengan langkah gusar, Masah membuka pintu kamar. Di luar, berdiri Fitri dengan wajah pucat dan tubuh yang gemetar. Kedua tangannya memegangi lengan kirinya sendiri.
"Ada apa, Fit?" tanya Masah, mencoba meredam emosinya.
Fitri menatap Masah, lalu beralih menatap Iren yang masih menangis di atas kasur. Dengan suara yang hampir habis, Fitri berbisik, "Om... Tante... Maaf mengganggu. Tapi... di dalam kamarku, sejak tadi ada suara orang tua yang sedang menangis. Dan... kasurku rasanya basah seperti disiram air tanah."
Mendengar ucapan Fitri, bulu kuduk Masah mendadak ikut berdiri. Untuk pertama kalinya, Masah menyadari bahwa apa yang dialami istrinya mungkin bukan sekadar halusinasi belaka. Kutukan itu tidak hanya mengincar Iren, melainkan telah masuk dan menetap di dalam rumah mereka.
## Bab 3: Teror yang Menular
Suasana di lorong rumah mendadak mencekam. Masah yang tadinya begitu keras kepala dan menganggap Iren hanya berhalusinasi, kini terpaku di ambang pintu. Tatapan mata Fitri yang ketakutan bukan sebuah rekayasa.
"Fit... kamu serius?" tanya Masah, suaranya mendadak turun beberapa oktav.
Fitri hanya mengangguk cepat, air matanya mulai menetes. "Iya, Om. Suaranya lirih banget, seperti suara nenek kalau lagi sedih. Tapi pas Fitri cari ke seluruh sudut kamar, nggak ada siapa-siapa. Pas Fitri mau coba tidur lagi, bantal dan kasur Fitri rasanya dingin dan bau tanah..."
Iren yang mendengar hal itu langsung turun dari tempat tidur. Dengan tubuh yang masih lemas, ia memeluk Fitri erat-erat. "Maafkan Tante, Fit... Ini semua karena Tante. Nenekmu marah sama Tante," bisik Iren di sela tangisnya.
Masah mencoba menguasai keadaan. Sebagai kepala rumah tangga, ia tidak boleh terlihat lemah, meskipun nyalinya kini ikut menciut. "Sudah, sudah. Fitri, malam ini kamu tidur di kamar depan dekat ruang tamu saja. Biar kamar yang itu Om kunci dari luar."
Malam itu berakhir dengan ketegangan yang menggantung. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa memejamkan mata hingga azan subuh berkumandang.
Keesokan harinya, Masah memutuskan untuk tidak masuk kerja. Keadaan rumah sudah tidak kondusif. Iren hanya melamun di meja makan, sementara Fitri mencoba menyibukkan diri dengan menyapu halaman rumah untuk mengurangi rasa takutnya.
"Ren," panggil Masah sambil duduk di samping istrinya. "Kita nggak bisa diam saja kalau penampakan ini sudah mulai mengganggu orang lain. Aku minta maaf karena kemarin sempat mengira kamu gila."
Iren menoleh lambat, matanya sembap. "Aku harus bagaimana, Mas? Nek Yeti meninggal karena jantungan saat rumahnya kita sita. Kutukannya benar-benar nyata. Dia bilang hidupku akan apes..."
"Bagaimana kalau kita adakan pengajian di rumah ini? Kita doakan almarhumah Nek Yeti agar tenang di sana," usul Masah. "Dan mungkin, kita juga harus mencari tahu apakah ada wasiat atau keinginan Nek Yeti yang belum terpenuhi melalui Fitri."
Iren setuju. Setidaknya, itu adalah langkah konkret yang bisa mereka lakukan.
Sore harinya, Iren memanggil Fitri untuk duduk bersama di ruang tengah. Iren membuatkan teh hangat untuk menenangkan gadis itu.
"Fitri, Tante mau tanya sesuatu," buka Iren dengan lembut. "Sebelum nenekmu meninggal... apa ada hal atau keinginan yang sering beliau ucapkan tapi belum sempat terwujud? Selain soal rumah itu."
Fitri terdiam sejenak, jarinya memainkan pinggiran cangkir teh. Kenangan bersama sang nenek kembali berputar di kepalanya.
"Nenek... sebenarnya sering cerita tentang ibu saya, Tante," jawab Fitri pelan. "Ibu kan kerja merantau dan sudah lama nggak pulang. Nenek selalu menyimpan sebuah kotak kayu kecil di bawah tempat tidurnya. Kata Nenek, kotak itu berisi tabungan sedikit demi sedikit yang mau diberikan ke Ibu kalau Ibu pulang, buat modal usaha biar Ibu nggak usah merantau lagi."
Fitri mengusap air matanya. "Tapi pas rumah disita dan barang-barang dikeluarkan, Fitri panik dan bingung. Fitri nggak tahu sekarang kotak kayu itu ada di mana. Mungkin tertinggal di dalam rumah yang dikunci itu, atau malah hilang..."
Iren dan Masah saling berpandangan. Apakah ini jawaban dari segala teror yang mereka alami? Apakah arwah Nek Yeti tidak tenang karena barang berharganya tertinggal di rumah yang kini telah disegel oleh perusahaan tempat Iren bekerja?
Malam kembali merayap, membawa kembali atmosfer pekat ke dalam rumah tersebut. Meskipun Masah sudah berencana memanggil ustaz untuk pengajian besok malam, makhluk tak kasat mata di dalam rumah mereka tampaknya enggan memberikan mereka waktu istirahat.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ibu mertua Iren yang tinggal di kamar belakang mendadak berteriak histeris.
"Tolong! Masah! Iren! Tolong Ibu!"
Suara teriakan itu memecah kesunyian. Masah dan Iren langsung berlari menuju kamar belakang, disusul oleh Fitri yang terbangun karena panik.
Begitu pintu kamar dibuka, mereka mendapati ibu mertua Iren sedang menyudut di atas tempat tidur sambil menunjuk ke arah langit-langit kamar dengan wajah pucat pasi.
Di atas sana, tepat di sudut plafon, air berwarna hitam pekat menetes satu demi satu ke lantai. Tetesan air itu mengeluarkan bau busuk yang menyengat—bau yang sama dengan bau tanah kuburan basah yang dicium Fitri semalam.
Dan yang lebih mengerikan, di tengah remang lampu kamar, tetesan air hitam itu perlahan membentuk sebuah siluet tulisan di lantai:
**K E M B A L I K A N**
Bersamaan dengan terbentuknya tulisan itu, suara tongkat kayu yang dihentakkan ke lantai kembali bergema dari arah ruang tamu. *Tok... tok... tok...*
Kali ini, suaranya terdengar sangat cepat dan beritme, seolah-olah sosok yang membawanya sedang berjalan dengan amarah yang menggebu-gebu, menuju tepat ke arah tempat mereka berdiri.
## Bab 4: Akhir dari Sebuah Kutukan
Langkah kaki itu semakin dekat. Suara *tok... tok... tok...* dari tongkat kayu milik Nek Yeti menggema di sepanjang lorong, berbaur dengan aroma tanah kuburan yang kian menusuk hidung. Masah segera menarik ibu dan istrinya ke belakang tubuhnya, sementara Fitri menangis ketakutan di sudut ruangan.
Ketika bayangan hitam tinggi dengan rambut putih acak-acakan mulai menyembul di ambang pintu, Iren tidak lagi berlari sembunyi. Rasa takutnya mendadak kalah oleh rasa bersalah dan tekad untuk mengakhiri penderitaan ini.
Iren maju menjatuhkan dirinya bersimpuh di lantai, tepat di depan tulisan air hitam yang berbau busuk.
"Nek... Maafkan Iren!" jerit Iren dengan air mata yang tumpah ruah. "Iren tahu Iren salah! Iren tidak akan membiarkan kotak kayu titipan Nenek untuk ibunya Fitri hilang. Iren janji akan mengembalikan semuanya!"
Mendengar kata 'kotak kayu', bayangan hitam itu mendadak terpaku. Suara hentakan tongkat yang tadinya bising seketika berhenti. Keheningan yang pekat mencekam ruangan selama beberapa detik, sebelum akhirnya bayangan itu perlahan-lahan memudar dan lenyap ke udara, meninggalkan bau tanah yang berangsur menipis.
Keesokan paginya, tanpa memedulikan hari libur, Iren dan Masah langsung bergegas menuju rumah Nek Yeti yang telah disegel. Menggunakan wewenangnya sebagai orang dalam perusahaan, Iren meminta izin darurat untuk membuka segel pintu demi mengambil barang yang tertinggal.
Di dalam rumah yang berdebu itu, Iren, Masah, dan Fitri langsung menuju ke bekas kamar tidur Nek Yeti. Dengan jantung berdebar, Masah meraba bagian kolong ranjang kayu yang sudah tua. Tangannya membentur sesuatu yang keras.
"Ketemu!" seru Masah.
Sebuah kotak kayu kecil berukir sederhana ditarik keluar. Ketika dibuka, di dalamnya terdapat tumpukan uang kertas lusuh hasil tabungan Nek Yeti selama bertahun-tahun, lengkap dengan selembar foto usang ibu Fitri. Fitri langsung memeluk kotak itu erat-erat sambil menangis sejadi-jadinya.
"Terima kasih, Tante... Terima kasih, Om..." ucap Fitri di sela tangisnya.
Hari itu juga, Iren dan Masah membantu Fitri untuk menghubungi ibunya di perantauan. Melalui sambungan telepon, sang ibu menangis histeris mendengar kabar kematian Nek Yeti, namun ia berjanji akan segera pulang minggu ini untuk merawat Fitri dan menggunakan uang tabungan tersebut untuk modal usaha di kampung halaman, persis seperti keinginan terakhir almarhumah.
Sore harinya, sesuai rencana, rumah Iren dipenuhi oleh lantunan ayat-ayat suci. Mereka mengadakan pengajian dan doa bersama untuk ketenangan arwah Nek Yeti. Iren juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di perusahaan pembiayaan tersebut, memilih mencari pekerjaan lain yang lebih menenteramkan hatinya.
Malamnya, saat jam dinding kembali melewati angka dua belas, Iren terbangun. Suasana rumah begitu tenang dan damai. Tidak ada lagi bau tanah kuburan, tidak ada tetesan air hitam, dan tidak ada lagi suara batuk parau yang mengerikan.
Iren berjalan menuju jendela kamar dan membukanya sedikit. Di luar, angin malam berembus lembut. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Iren bisa tersenyum lepas. Mistis dan teror kutukan dari perempuan tua itu kini telah berakhir, digantikan oleh kedamaian yang seutuhnya.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar