Keserakahan di Balik Tabir Suci
Malam kian larut, menyisakan keheningan yang mencekam di sudut Kampung Kucrit. Angin malam berhembus dingin, menggoyang dedaunan pohon mangga tua di samping Masjid Al-Ikhlas. Di tengah kegelapan, dua bayangan manusia bergerak mengendap-endap. Mereka adalah Danu dan Rika, sepasang suami istri yang penampilannya sehari-hari tampak bersahaja, namun menyimpan hati yang digerogoti oleh keserakahan.
Bagi Danu dan Rika, gaya hidup mewah dan uang instan adalah segalanya. Mereka lelah hidup pas-pasan, tetapi enggan memeras keringat dengan cara yang halal. Ketika kebutuhan mendesak dan utang mulai menumpuk akibat hobi berfoya-foya, sebuah ide iblis terlintas di benak Danu: mengincar kotak amal besar di masjid kampung yang baru saja mengadakan tablig akbar.
"Kamu yakin aman, Kang?" bisik Rika, matanya liar menyapu sekeliling halaman masjid yang sepi. Selendang hitamnya ditarik erat untuk menutupi sebagian wajah.
Danu mendengus pelan, tangannya yang menggenggam sebuah linggis kecil terasa dingin. "Tenang saja. Penjaga masjid, Pak taufik, jam segini pasti sudah tidur pulas di kamarnya. Ini kesempatan kita. Uang di dalam kotak itu pasti puluhan juta."
Dengan langkah seringan kapas, keduanya menyelinap melalui pintu samping masjid yang memang sengaja tidak dikunci rapat agar musafir bisa singgah. Suasana di dalam rumah ibadah itu begitu tenang dan suci, namun tidak sedikit pun mengetuk hati nurani pasangan tersebut. Fokus mereka hanya tertuju pada kotak kayu jati besar berukir yang terletak di dekat pilar utama.
Danu segera bertindak. Dengan keahlian yang sudah dilatihnya, ia mencongkel engsel gembok kotak amal tersebut. Suara gemertak besi yang patah terdengar tajam di tengah keheningan, membuat jantung Rika berdegup kencang. Begitu penutup kotak terbuka, mata sepasang suami istri itu langsung berbinar serakah. Di dalamnya menumpuk ratusan lembar uang kertas—merah, biru, dan hijau—hasil sumbangan ikhlas para jemaah untuk anak yatim dan renovasi masjid.
Tanpa membuang waktu, Rika mengeluarkan sebuah baskom plastik besar dari dalam tas kainnya. Mereka mengeruk dan memindahkan seluruh isi kotak amal itu ke dalam baskom dengan tergesa-gesa. Lembar demi lembar uang berpindah tangan, diiringi tawa tertahan yang penuh kepuasan dari bibir Rika. Mereka merasa seolah-olah telah memenangkan lotre, tanpa peduli bahwa tempat mereka berdiri adalah tempat suci, rumah Allah.
Setelah memastikan kotak amal itu kosong melompong, mereka segera membungkus baskom berisi uang itu dengan kain penutup dan bergegas kembali ke rumah kontrakan mereka yang terletak di pinggiran kampung.
Sesampainya di ruang tamu rumah mereka, Danu dan Rika langsung menumpahkan seluruh uang tersebut di atas meja. Di bawah temaram lampu neon, mereka duduk di sofa, tertawa kegirangan sembari menghitung hasil jarahan. Rika dengan lihai memilah uang seratus ribuan, sementara Danu merapikan pecahan lainnya.
"Lihat ini, Kang! Kita kaya mendadak! Kita bisa beli motor baru dan bayar semua utang belanjaanku!" seru Rika dengan mata berbinar-binar penuh kemenangan.
Danu tersenyum lebar, menepuk pundak istrinya. "Apa kubilang? Kalau cuma mengandalkan kerja biasa, kapan kita bisa pegang uang sebanyak ini? Siapa yang peduli itu uang apa, yang penting sekarang jadi milik kita."
Namun, kebahagiaan haram itu tidak bertahan lama. Keesokan harinya, hilangnya uang kotak amal tersebut memicu kegemparan di seluruh Kampung Kucrit. Warga merasa geram dan terpukul atas tindakan keji tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi takdir untuk mengejar kelancangan mereka. Melalui rekaman kamera pengawas (CCTV) tersembunyi yang baru dipasang di sudut langit-langit masjid—yang keberadaannya tidak disadari oleh Danu dan Rika—wajah dan gerak-gerik pasangan suami istri itu terekam dengan sangat jelas.
Siang harinya, rumah kontrakan mereka mendadak dikepung oleh warga yang marah bersama aparat kepolisian. Danu dan Rika yang saat itu sedang bersiap-siap untuk pergi membelanjakan uang curian tersebut, tidak bisa berkutik lagi ketika polisi menemukan baskom berisi sisa uang korbannya di bawah tempat tidur.
Saat digelandang keluar rumah di hadapan cemoohan dan amarah warga kampung, Rika menangis histeris sementara Danu hanya bisa tertunduk dengan wajah pucat pasi berbalut borgol besi. Uang yang mereka kejar dengan cara menantang murka Sang Pencipta tidak memberi mereka kemewahan, melainkan menyeret mereka ke balik jeruji besi, menyisakan nama buruk sebagai "pasangan setan" yang nekat menodai kesucian rumah Allah demi keserakahan sesaat.
## Bagian 2: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
Dinding sel tahanan Polres Metro itu terasa begitu dingin dan lembap. Bau pesing dan asap rokok menyengat hidung Rika, membuatnya tak henti-hentinya terisak di sudut ruangan. Pakaiannya yang semula rapi kini tampak kusut, sewarna dengan wajahnya yang kuyu. Di sel pria yang terletak hanya berseberangan lorong, Danu duduk termenung memandangi lantai semen, mengabaikan tatapan sinis dari tahanan lain.
"Ini semua gara-gara kamu, Kang!" jerit Rika histeris, suaranya menggema di koridor tahanan. "Kalau kamu enggak ngajak aku nyolong di masjid, kita enggak bakal berakhir di tempat terkutuk ini!"
Danu mendongak, matanya merah menahan amarah dan frustrasi. "Jaga mulutmu, Rika! Waktu ngitung duitnya di sofa, kamu yang paling lebar ketawanya! Kamu yang minta beli motor baru, minta bayar utang belanjaanmu! Sekarang sudah ketangkap, jangan sok suci!"
"Heh, diam kalian berdua! Berisik!" bentak salah seorang petugas jaga, memukul jeruji besi dengan tongkatnya hingga menimbulkan suara dentangan yang memekakkan telinga. Seketika, pasutri itu terbungkam, menyisakan napas yang memburu dan dendam yang mulai tumbuh di antara keduanya.
### Tamu dari Masa Lalu
Dua hari berlalu dalam siksaan mental yang luar biasa. Pada hari ketiga, seorang petugas datang menghampiri sel Rika. "Rika, ada yang datang menjengukmu."
Jantung Rika berdegup kencang. *Apakah itu pengacara? Atau warga kampung yang kasihan?* Dengan harapan tipis, ia melangkah pincang menuju ruang kunjungan yang dibatasi kaca tebal.
Namun, senyum Rika langsung runtuh saat melihat siapa yang duduk di seberang kaca. Bukan pengacara mahal, melainkan **Pak Taufik**, marbot sekaligus penjaga Masjid Al-Ikhlas yang malam itu mereka khianati. Pria tua itu mengenakan baju koko putih yang bersahaja, wajahnya tampak teduh, namun memancarkan kekecewaan yang mendalam.
Rika perlahan mengangkat telepon interkom dengan tangan gemetar. "Pak... Pak Taufik..."
"Assalamu’alaikum, Rika," suara Pak Taufik terdengar bergetar dari balik gagang telepon. Tidak ada nada amarah atau makian dari mulutnya.
"Pak... tolong saya, Pak. Tolong suruh warga cabut laporannya. Saya khilaf, Pak. Saya janji bakal balikin semua uangnya," ratap Rika, air matanya kembali tumpah ruah.
Pak Taufik menghela napas panjang, menatap Rika dengan pandangan iba sekaligus tegas.
> "Rika, uang yang kalian ambil itu bukan milik saya, bukan juga milik pengurus masjid. Itu uang anak-anak yatim, uang jemaah yang menyisihkan rezekinya untuk rumah Allah. Kamu tahu? Hari di mana kalian mencuri, ada seorang janda tua yang memasukkan uang lima ribu rupiah terakhirnya ke kotak itu sambil menangis, berdoa agar anaknya yang sakit bisa sembuh."
>
Mendengar ucapan itu, entah mengapa dada Rika mendadak terasa sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu menipis.
"Hukum dunia harus tetap berjalan, Rika. Biar ini jadi penggugur dosa kalian dan pelajaran bagi siapa saja," lanjut Pak Taufik pelan. "Tapi yang lebih saya takuti... adalah hukum dari-Nya. Beristigfarlah."
### Teror yang Dimulai
Malamnya, setelah kunjungan Pak Taufik, suasana sel terasa berbeda bagi Rika. Jam dinding di lorong menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Rekan-rekan sesama tahanan di dalam selnya sudah tertidur lelap, menyisakan suara dengkuran yang saling bersahutan.
Rika mencoba memejamkan mata, namun telinganya tiba-tiba menangkap suara yang aneh.
*Gemerincing... gemerincing...*
Suara itu terdengar persis seperti suara koin-koin yang dijatuhkan ke dalam kotak amal besi. Rika membuka matanya dengan terkejut. Di sudut sel yang gelap, ia melihat siluet sebuah kotak kayu besar—kotak amal Masjid Al-Ikhlas.
"Enggak... enggak mungkin. Itu kan di kantor polisi sebagai barang bukti," bisik Rika, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Tiba-tiba, dari balik kotak tersebut, muncul sepasang tangan hitam legam dengan kuku-kuku panjang yang tajam. Tangan itu perlahan membuka penutup kotak, dan dari dalamnya, merangkak keluar sesosok makhluk bertubuh legam, bermata merah menyala, dengan wajah yang hancur mengerikan. Makhluk itu menatap langsung ke arah Rika, lalu menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang runcing berbisa.
Makhluk itu membisikkan sesuatu dengan suara parau yang mengguncang jiwa Rika:
*"Kalian telah mencuri di rumah-Ku... sekarang, giliran jiwamu yang Aku ambil..."*
"Aaaakkkhhh!!! Pergi!!! Jangan mendekat!!!"
Rika menjerit histeris sekuat tenaga, menggedor-gedor jeruji besi selnya. Teriakannya yang melengking memecah keheningan malam, membangunkan seluruh tahanan dan petugas jaga yang langsung berlarian menuju selnya.
Sementara itu, di sel seberang, Danu terbangun dengan napas terengah-engah. Ia memegangi lehernya yang mendadak terasa mencekik, seolah ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas tenggorokannya. Dari sudut matanya yang mulai memerah akibat kekurangan oksigen, Danu melihat bayangan hitam besar sedang berdiri tepat di atas tubuhnya, siap menuntut balas.
*Apakah jeritan Rika dan cekikan mistis yang dialami Danu hanyalah halusinasi akibat stres, ataukah instansi gaib mulai mendatangkan azab atas perbuatan nekat mereka di rumah Allah?*
## Bagian 3: Bayang-Bayang Azab
"Woi! Diam! Ada apa ini?!" bentak petugas sipir yang datang sembari menggebrak jeruji besi sel Rika.
Rika terduduk di lantai sudut sel, tubuhnya bergetar hebat dengan pandangan mata yang kosong namun penuh ketakutan. Jari-jarinya mencengkeram erat pakaian tahanannya sendiri. "Kotak itu... makhluk itu... dia mau ambil jiwa saya, Pak! Tolong saya!" racaunya dengan suara parau.
Rekan-rekan satu selnya hanya menatap Rika dengan pandangan ngeri sekaligus kesal. "Dia dari tadi tidur, Pak. Tiba-tiba langsung menjerit kayak kesurupan," ketus salah satu tahanan wanita tua yang merasa terganggu.
Sementara itu, di sel pria seberang lorong, suasana tidak kalah mencekam. Danu baru saja melepaskan diri dari sensasi cekikan gaib yang membuatnya hampir kehabisan napas. Ia terbatuk-batuk hebat di lantai, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Saat ia memberanikan diri menatap ke langit-langit sel, bayangan hitam besar itu sudah lenyap, meninggalkan bau anyir yang pekat dan menusuk hidung.
"Kamu kenapa, Danu? Sakit?" tanya tahanan lain yang terbangun karena suara batuknya.
Danu hanya menggeleng patah-patah. Ia tidak berani menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Lidahnya mendadak kelu, dan hatinya mulai dihinggapi ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
### Sidang yang Mengadili Jiwa
Bulan-bulan berlalu di balik jeruji besi terasa bagai ribuan tahun bagi pasutri tersebut. Proses hukum berjalan cepat, dan hari yang dinantikan pun tiba: persidangan putusan.
Ruang sidang dipadati oleh beberapa warga Kampung Kucrit yang ingin melihat akhir dari perjalanan "pasangan setan" ini. Di kursi terdakwa, Danu dan Rika duduk berdampingan. Namun, tidak ada lagi kehangatan di antara mereka. Keduanya saling membuang muka, tenggelam dalam penyesalan dan ketakutan masing-masing yang kian hari kian menggerogoti kewarasan mereka.
Hakim mengetuk palu dengan tegas.
> "Menyatakan terdakwa satu, Danu, dan terdakwa dua, Rika, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencurian dalam keadaan memberatkan. Menjatuhkan hukuman pidana penjara masing-masing selama tiga tahun enam bulan."
>
*Tok! Tok! Tok!*
Suara ketukan palu hakim menggema. Bagi orang lain, hukuman itu mungkin terdengar standar untuk kasus pencurian. Namun bagi Danu dan Rika, vonis itu seperti lonceng kematian. Mereka tahu, mendekam di dalam penjara berarti mereka harus terus berhadapan dengan "teror malam" yang tidak pernah absen menghantui tidur mereka sejak malam penangkapan.
Saat dibawa kembali ke mobil tahanan, Rika sempat melihat Pak Taufik berdiri di luar ruang sidang. Marbot tua itu tidak tersenyum, tidak pula menatap dengan amarah. Ia hanya memegang tasbihnya, mulutnya komat-kamit merapalkan doa, menatap pasutri itu dengan pandangan sedih.
### Malam Terakhir di Sel Isolasi
Akibat kondisi mental Rika yang kian hari kian tidak stabil—sering berteriak histeris setiap jam dua dini hari—pihak lapas terpaksa memindahkannya ke sel isolasi demi kenyamanan tahanan lain. Malam itu, giliran hujan lebat mengguyur kota, diiringi suara petir yang menggelegar menyambar-nyambar.
Lampu sel isolasi mendadak padam. Suasana menjadi gelap gulita.
*Gemerincing... gemerincing...*
Suara itu kembali. Bukan lagi dari sudut sel, melainkan terdengar tepat di atas telinga Rika.
Rika memejamkan matanya rapat-rapat, menutup telinganya dengan kedua tangan. "Pergi... Demi Allah, pergi! Aku minta maaf! Aku tobat!" jeritnya di dalam kegelapan.
Namun, ketika ia menyebut nama Tuhan, embusan angin sedingin es menerpa tengkuknya. Suara parau yang mengerikan itu berbisik, kali ini begitu dekat hingga Rika bisa merasakan hawa busuknya:
*"Kau sebut nama-Nya hanya saat kau ketakutan... Di mana hatimu saat kau menginjak-injak rumah-Ku?"*
Perlahan, Rika membuka mata karena merasakan ada sesuatu yang basah menetes di dahinya. Saat petir menyambar di luar, cahayanya menerangi ruangan sesaat. Rika tersedak sekeras-kerasnya. Tepat di atas langit-langit sel, makhluk berwajah hancur itu bergelantungan terbalik, menatapnya dengan mata merah yang menyala-nyala. Cairan kental berwarna hitam legam menetes dari mulut makhluk itu, jatuh tepat ke wajah Rika.
Di saat yang sama, di blok tahanan pria, Danu mendadak bangkit dari tempat tidurnya. Tubuhnya bergerak kaku, matanya melotot kosong seperti orang yang sedang berjalan dalam tidur (*sleepwalking*). Di dalam benaknya, ia mendengar suara panggilan yang sangat merdu, mengajaknya untuk berjalan menuju kamar mandi ujung blok.
Tahanan lain yang terbangun melihat gelagat aneh Danu mencoba memanggilnya. "Dan, mau ke mana lu? Danu!"
Namun Danu tidak mendengar. Langkah kakinya begitu ringan, seolah berat tubuhnya telah lenyap. Di dalam pikirannya, ia sedang berjalan di halaman masjid yang indah. Namun secara nyata, tangannya perlahan meraih seutas tali jemuran yang terikat di pilar besi kamar mandi lapas...
*Apakah malam ini akan menjadi malam penghakiman terakhir bagi Danu dan Rika, ataukah ada kesempatan kedua bagi jiwa-jiwa yang telah menantang murka Pemilik Semesta?*
## Bagian 4: Akhir dari Sebuah Keserakahan (TAMAT)
Suara petir menggelegar, membelah langit malam di atas Lapas. Kilatan cahayanya menerangi lorong kamar mandi blok pria yang sunyi.
Danu berdiri di atas sebuah ember plastik yang dibalik. Matanya masih melotot kosong, namun air mata mengalir deras dari sudutnya, seolah jiwa aslinya sedang menjerit ketakutan di dalam raga yang sudah dikendalikan oleh kekuatan gaib. Tangannya dengan kaku melingkarkan tali jemuran nilon ke lehernya sendiri.
Di dalam kepalanya, suara merdu yang mengajaknya tadi mendadak berubah menjadi tawa melengking yang memekakkan telinga. Bayangan hitam besar yang selama ini menghantuinya muncul tepat di depannya, menendang ember tumpuan Danu hingga terpental.
*BRAKK!*
Tubuh Danu tersentak, tergantung di udara. Rasa sakit yang luar biasa menghantam tenggorokannya. Ia berusaha menggapai tali dengan tangannya, mencoba bernapas, namun semuanya terlambat. Pandangannya perlahan menggelap bersamaan dengan hilangnya pasokan oksigen ke otaknya. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia melihat bayangan makhluk itu tersenyum puas, memungut jiwanya yang kini terjebak dalam penyesalan abadi.
### Jeritan di Sel Isolasi
Sementara itu, di blok wanita, petugas sipir yang sedang berpatroli panik mendengar suara benturan keras dan jeritan histeris dari dalam sel isolasi Rika. Dengan tergesa-gesa, petugas memutar kunci dan membuka pintu besi tebal itu.
Saat lampu senter diarahkan ke dalam, petugas tersebut hampir saja muntah karena bau busuk yang mendadak menyerbak.
Rika ditemukan tergeletak di lantai dengan posisi tubuh yang aneh. Kedua tangannya mencengkeram lehernya sendiri dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya menancap dan berdarah. Matanya melotot ke atas langit-langit seolah melihat sesuatu yang amat mengerikan, dan mulutnya menganga lebar dalam kondisi kaku. Rika masih bernapas, namun ia telah kehilangan seluruh kewarasannya. Ia hanya bisa mengerang kecil, merancau tentang "baskom penuh darah" dan "kotak amal" tanpa henti.
### Epilog: Sebuah Peringatan
Keesokan paginya, berita tentang kematian Danu yang tragis dan kondisi Rika yang menjadi gila menyebar cepat hingga ke Kampung Kucrit. Warga yang mendengar kabar tersebut hanya bisa mengelus dada, merasa ngeri sekaligus memetik pelajaran berharga.
Beberapa hari kemudian, Pak Taufik, sang marbot masjid, tampak sedang membersihkan area sekitar pilar utama Masjid Al-Ikhlas. Kotak amal kayu jati yang sempat dirusak kini sudah diperbaiki dan diganti dengan gembok yang baru.
Saat Pak Taufik mengelap bagian atas kotak tersebut, ia sempat tertegun. Di atas permukaan kayu, samar-samar terlihat bekas goresan hitam yang membentuk pola seperti tangan bercakar dengan bau anyir yang tipis—sisa dari energi gelap yang telah menuntut balas.
Pak Taufik menghela napas dalam-dalam, lalu mengambil tasbihnya. Ia menatap ke arah luar masjid, di mana matahari pagi bersinar cerah, menghalau sisa-sisa kegelapan malam.
> "Keserakahan sering kali membuat manusia buta. Mereka lupa, ada tempat-tempat yang tidak boleh dinodai, dan ada batas-batas milik Sang Pencipta yang jika dilanggar, akan mendatangkan pengadilan-Nya sendiri, bahkan sebelum maut menjemput."
>
Sejak hari itu, kotak amal Masjid Al-Ikhlas tetap berdiri kokoh di tempatnya, menjadi saksi bisu atas runtuhnya sepasang jiwa yang nekat menukar iman mereka dengan baskom berisi uang haram.
**--- TAMAT ---**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar