Matahari Jakarta sedang terik-teriknya ketika Aris berdiri di depan gerbang sebuah rumah mewah di kawasan Menteng. Aris, yang sebenarnya adalah putra tunggal seorang konglomerat pemilik jaringan hotel mewah—alias seorang "Anak Sultan"—hari itu berpenampilan sangat jauh dari status aslinya. Ia hanya mengenakan kemeja polos murah dan celana jins pudar.
Aris sedang dihukum oleh ayahnya. Semua fasilitasnya dicabut, dan ia dipaksa hidup mandiri selama tiga bulan untuk belajar menghargai uang. Berbekal info lowongan dari seorang teman, Aris nekat melamar menjadi sopir pribadi di rumah keluarga kaya raya tersebut.
Di hari pertamanya bekerja, Aris langsung dihadapkan pada tugas pertama: menjemput keponakan sang pemilik rumah di bandara. Namun, karena koordinasi yang kacau dari kepala pelayan, Aris justru salah membawa orang. Bukannya menjemput seorang pengasuh anak (*baby sitter*) senior yang baru datang dari daerah, Aris malah membawa Mila.
Mila adalah seorang gadis keras kepala yang sebenarnya merupakan anak dari pengusaha properti kaya. Hari itu, Mila kabur dari rumah karena menolak dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan pria pilihan mereka yang bersikap arogan. Untuk menyembunyikan identitasnya, Mila sengaja memakai pakaian kasual yang sangat sederhana.
"Kamu sopir baru yang dikirim buat jemput saya, kan?" tanya Mila ketus saat masuk ke dalam mobil, mengira Aris adalah sopir taksi daring yang ia pesan.
Aris yang tidak tahu wajah asli *baby sitter* yang seharusnya ia jemput langsung mengangguk. "Iya, Mbak. Langsung ke rumah utama ya?"
Kesalahpahaman itu berlanjut sesampainya mereka di rumah mewah tersebut. Kepala pelayan langsung menarik Mila ke halaman belakang, mengiranya sebagai *baby sitter* baru yang bertugas mengurus anjing-anjing ras besar milik majikan mereka, sementara Aris kembali ke pos penjagaan sopir.
Sore harinya, Aris melihat Mila sedang kelabakan di taman karena dikejar oleh seekor anjing Bulldog besar. Sambil mendengus geli, Aris berjalan santai mendekat dan dengan cekatan menenangkan anjing tersebut.
Mila yang masih syok terduduk di bangku taman sambil mengatur napasnya. Aris ikut duduk di sampingnya, memasang wajah sedikit meledek namun tatapannya tidak bisa berbohong—ia terpikat oleh paras natural gadis di sebelahnya itu. Mila yang menyadari arah pandangan Aris langsung memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah di pipinya sembari berpura-pura kesal.
"Jadi... anak kota mana yang nyamar jadi *baby sitter* tapi takut sama anjing?" goda Aris sambil melirik Mila dari sudut matanya.
"Sembarangan! Aku ini profesional, ya. Cuma tadi anjingnya aja yang enggak ramah lingkungan!" sahut Mila ketus, membela diri dengan gengsi setinggi langit.
"Oh ya? Pegangan sapu aja kamu kebalik megangnya tadi," sahut Aris lagi, terkekeh pelan.
"Ih, menyebalkan banget sih jadi sopir!"
Hari demi hari berlalu. Di rumah mewah itu, dua anak orang kaya yang sama-sama berpura-pura miskin ini justru menjadi sangat dekat. Aris sering membantu Mila menyelesaikan tugas-tugas "penyamarannya" yang kacau, mulai dari membersihkan halaman hingga menyiapkan makanan. Sebaliknya, Mila selalu menjadi teman mengobrol yang asyik bagi Aris di sela-sela waktu senggangnya menunggu majikan.
Meski sering berdebat dan saling melempar argumen ketus, getaran di antara keduanya tidak bisa disembunyikan. Aris mengagumi kemandirian Mila yang (menurutnya) mandiri sebagai gadis sederhana, sementara Mila mulai mengagumi tanggung jawab dan ketulusan Aris yang ia kira hanyalah seorang sopir biasa.
Hingga akhirnya, tiga minggu kemudian, kebohongan mereka runtuh secara bersamaan.
Sebuah mobil mewah bergaya Eropa tiba-tiba berhenti di depan gerbang rumah. Ayah Mila turun dari mobil bersama dengan ayah Aris—yang ternyata adalah rekan bisnis lama. Kedua konglomerat itu datang untuk menghadiri acara jamuan makan malam di rumah tersebut.
Mila yang sedang membawa ember dan Aris yang sedang memegang lap mobil langsung mematung di halaman.
"Mila?! Kamu ngapain pakai baju begitu dan bawa ember?!" seru ayah Mila terkejut.
"Aris?! Jadi ini kelakuan kamu selama Papa hukum? Malah jadi sopir di sini?!" sahut ayah Aris tak kalah menggelegar.
Aris dan Mila saling berpandangan. Mulut mereka sama-sama terbuka lebar, menyadari bahwa selama ini mereka telah dibohongi oleh satu sama lain.
"Kamu... anak sultan juga?!" tanya Mila setengah berteriak.
"Kamu sendiri... ngapain nyamar jadi *baby sitter*?!" balas Aris tak kalah kaget.
Kedua ayah mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak-anak mereka. Namun, melihat kedekatan yang telanjur terbangun di antara keduanya, ayah Mila tiba-tiba tersenyum penuh arti kepada ayah Aris.
"Sepertinya kita tidak perlu susah-susah menjodohkan anak kita lagi," bisik ayah Mila.
Sambil cemberut karena malu karena rahasia masing-masing terbongkar, Aris berjalan mendekati Mila yang masih memegang embernya.
"Well," ujar Aris sambil tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Setidaknya sekarang aku tahu, kalau nanti kita menikah, kamu sudah pintar menyapu halaman."
Mila menjatuhkan embernya lalu mencubit lengan Aris dengan gemas. "Aris!! Diam enggak!"
Di bawah tawa kedua orang tua mereka, sore itu menjadi akhir dari penyamaran konyol mereka, sekaligus awal dari cerita baru yang jauh lebih nyata.
## Bab 2: Pertemuan Setelah Topeng Terbuka
Suasana ruang tamu mewah itu mendadak hening setelah badai rahasia terbongkar. Ember di lantai dan kain lap di kap mobil ditinggalkan begitu saja. Kini, Aris dan Mila sudah berganti pakaian yang jauh lebih layak—kembali ke setelan asli mereka sebagai anak-anak dari kalangan atas.
Aris duduk di sofa tunggal dengan kemeja desainer yang pas di badannya, sementara Mila duduk di seberangnya mengenakan gaun kasual mahal yang memperlihatkan keanggunan aslinya. Tidak ada lagi sopir miskin, tidak ada lagi pengasuh anak yang kikuk. Namun, kecanggungan di antara mereka justru terasa dua kali lipat lebih pekat.
Kedua ayah mereka sudah pindah ke ruang makan untuk membicarakan bisnis (dan rencana masa depan anak-anak mereka), meninggalkan keduanya dalam keheningan yang menyiksa.
"Jadi..." Mila membuka suara, melipat tangannya di dada sambil menatap Aris tajam. "Putra tunggal pemilik jaringan hotel mewah? Akting kamu hebat juga ya, bisa pasrah banget waktu aku omel-omelin kemarin."
Aris terkekeh pelan, menyugar rambutnya yang kini tertata rapi—sangat berbeda dengan penampilannya saat ditiup angin jalanan di atas motor tempo hari. "Kamu sendiri? Anak pengusaha properti raksasa tapi megang sapu aja gemeteran. Aku sempat mikir agensi *baby sitter* mana yang tega meloloskan orang kayak kamu."
Mila melempar bantal sofa kecil ke arah Aris, yang dengan cekatan ditangkap oleh pria itu. "Aku kan kabur karena mau dijodohkan! Aku enggak mau dapet cowok manja, sok kaya, dan hobi pamer yang cuma bisa ngandelin duit orang tuanya!"
"Hei, asal kamu tahu ya," Aris memajukan badannya, menatap Mila lekat-lekat. "Aku di sini kerja keras. Aku nyetir, bersihin mobil, sampai panas-panasan. Aku enggak manja. Dan satu lagi... cowok yang mau dijodohkan sama kamu itu, ternyata aku, kan?"
Kalimat terakhir Aris sukses membuat Mila bungkam. Wajahnya merona merah. Ia baru ingat bahwa pria arogan yang diceritakan ibunya tempo hari—pria yang membuatnya nekat kabur—adalah Aris. Padahal, setelah tiga minggu menghabiskan waktu bersama di pos penjagaan dan taman belakang, Aris sama sekali tidak terlihat seperti pria menyebalkan yang ia bayangkan.
Aris yang melihat perubahan ekspresi Mila tersenyum tipis. Nada suaranya melunak. "Tapi jujur... aku lebih suka kamu yang kemarin. Yang galak, yang gengsian tapi sebenarnya panik waktu dikejar anjing, dan yang apa adanya."
Mila mengalihkan pandangannya ke arah jendela, mencoba menyembunyikan senyum yang tiba-tiba terbit di bibirnya. "Jangan mulai deh, Ris. Terus sekarang gimana? Papaku sama Papamu pasti makin gencar menjodohkan kita setelah kejadian ini."
Aris berdiri dari sofanya, berjalan mendekat, lalu bersandar di meja tepat di depan Mila. Ia mengulurkan tangannya yang bersih tanpa noda oli.
"Gimana kalau kita bikin kesepakatan baru? Kita batalkan status 'perjodohan' dari orang tua kita."
Mila mendongak, agak terkejut sekaligus kecewa. "Maksud kamu?"
"Kita mulai semuanya dari awal. Bukan sebagai anak sultan yang dijodohkan, tapi sebagai Aris si mantan sopir konyol, dan Mila si mantan *baby sitter* amatir. Kita jalani ini dengan cara kita sendiri. Setuju?"
Mila menatap tangan Aris yang terulur, lalu perlahan menyambutnya dengan senyuman manis yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik wajah ketusnya.
"Oke. Tapi satu syarat," kata Mila, menyipitkan matanya penuh ancaman jenaka.
"Apa?"
"Kalau nanti kita jalan-jalan, kamu yang harus nyetir. Anggap saja latihan biar kemampuan sopir kamu enggak hilang."
Aris tertawa lepas, menjabat tangan Mila dengan erat. "Siap, Nona Muda. Perjalanan kita baru saja dimulai."
## Bab 3: Kencan Pertama Mantan Kru Rumah Tangga
Hari Minggu tiba, dan Aris benar-benar menepati janjinya. Sebuah mobil SUV hitam yang mengilat berhenti tepat di depan teras rumah Mila. Namun, alih-alih duduk di kursi belakang layaknya tuan muda, Aris justru keluar dari kursi kemudi dengan setelan kasual yang rapi—kaus putih polos dibalut kemeja flanel yang tidak dikancingkan, serta celana jins hitam.
Mila keluar dari pintu utama, penampilannya sore itu sukses membuat Aris menahan napas sejenak. Gadis itu mengenakan *blouse* berwarna pastel dengan rambut hitam panjangnya yang dibiarkan terurai indah. Tatapan tajam yang biasa Mila tunjukkan saat menyamar sebagai *baby sitter* kini digantikan oleh senyuman tipis yang sedikit canggung.
"Gimana, Sopir Aris? Mobilnya sudah dicek olinya?" goda Mila sambil berjalan mendekat.
Aris dengan sigap membukakan pintu penumpang depan untuk Mila, lalu membungkuk hormat layaknya pelayan profesional. "Sudah siap, Nona Muda. Bahan bakar penuh, AC dingin, dan sopirnya sudah mandi dua kali. Silakan masuk."
Mila tertawa geli dan masuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan, suasana yang awalnya canggung perlahan mencair. Mereka tidak pergi ke restoran bintang lima milik keluarga Aris, melainkan melipir ke sebuah kawasan kuliner tenda pinggir jalan yang terkenal dengan sate kambingnya.
"Serius, kita makan di sini?" tanya Mila saat mereka turun.
"Kenapa? Takut ya, anak sultan?" ledek Aris sambil menaik-turunkan alisnya.
"Heh, lupa ya kalau tiga minggu kemarin aku makannya mi instan di dapur belakang?" balas Mila tak mau kalah, langsung mengambil tempat duduk di kursi plastik panjang.
Mereka memesan dua porsi sate. Saat makanan datang, dinamika lama mereka kembali muncul. Aris dengan telaten memisahkan potongan bawang merah mentah dari piring Mila karena tahu gadis itu tidak menyukainya—sebuah detail kecil yang ia perhatikan saat mereka sering mencuri waktu makan siang bersama di pos penjagaan dulu.
"Ternyata kamu perhatian juga ya, walau mukanya ngeselin," ucap Mila tulus, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap Aris.
Aris yang sedang mengunyah hampir saja tersedak. Ia berdeham, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya. "Ya... anggap saja ini pelayanan prima dari mantan sopir pribadi kamu."
Namun, momen manis itu tidak bertahan lama. Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba sebuah motor sport berhenti di dekat tenda makan. Pengendaranya turun dan langsung berjalan ke arah meja mereka dengan langkah gusar.
"Mila?! Jadi kamu kabur dari rumah kemarin cuma buat makan di tempat kumuh kayak gini? Dan... sama cowok ini?!"
Mila dan Aris mendongak. Di depan mereka berdiri Andre, pria manja bin arogan pilihan orang tua Mila yang memicu aksi kaburnya Mila tempo hari. Andre menatap Aris dengan pandangan merendahkan, menilai Aris hanya dari penampilannya yang sederhana sore itu.
"Andre? Ngapain kamu di sini?!" Mila langsung berdiri, wajahnya berubah ketus.
"Aku nyariin kamu, Mil! Tante mendingan jodohin kamu sama aku daripada kamu kelayapan sama cowok yang... keliatannya cuma remahan rengginang begini. Heh, bro, lo punya modal apa jalan sama Mila?" tanya Andre sinis ke arah Aris.
Aris tetap tenang di kursinya. Ia mengelap mulutnya dengan tisu, lalu berdiri perlahan. Postur tubuhnya yang tegap membuat Andre agak mundur selangkah. Dengan senyum tipis yang mematikan, Aris merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci mobil berlogo *brand* Eropa premium yang sengaja ia bawa, lalu meletakkannya di atas meja dengan bunyi 'klak' yang mantap.
"Modal saya? Nggak banyak sih, Mas. Cuma punya waktu buat dengerin dia, punya kesabaran buat nemenin dia, sama... kebetulan bapak saya yang punya jaringan hotel tempat keluarga Mas biasa bikin acara tahunan," ucap Aris santai namun penuh penekanan.
Mila yang mendengar itu langsung menahan tawa, sementara wajah Andre mendadak pucat setelah menyadari siapa pria di depannya.
Aris kemudian menoleh ke arah Mila, mengulurkan tangannya. "Nona Muda, sepertinya suasana di sini mendadak kurang nyaman. Mau kita pindah cari pencuci mulut di tempat lain?"
Mila tersenyum lebar, langsung menyambut tautan tangan Aris tanpa ragu. "Boleh banget, Sopir Aris. Tolong sekalian bayar satenya, ya!"
Mereka berdua berjalan meninggalkan Andre yang masih mematung di pinggir jalan. Di dalam mobil, tawa mereka pecah bersamaan. Malam itu, di bawah pendar lampu kota Jakarta, status 'anak sultan' tak lagi menjadi beban atau perjodohan paksa, melainkan sebuah pelengkap dari cerita cinta dua orang yang berhasil jatuh hati lewat penyamaran konyol mereka.
**TAMAT**





